Rabu, 12 Maret 2014

KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN



KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN SERTA KEANEKARAGAMAN DAN PENGELOMPOKAN ILMU PENGETAHUAN


                                                                                                                                               




 










PROGRAM STUDI BIOLOGI
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013
Abstrak
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam- dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita- citakan. Manusia pada dasarnya dilahirkan ke dunia sebagai bayi yang tidak dapat berbuat apa- apa tanpa pertolongan orang lain, mereka memerlukan bantuan orang lain untuk dapat mempertahankan hidupnya. Dalam hidupnya, manusia akan dihadapkan kepada beberapa kemungkinan. Dalam menghadapi kehidupan tersebut, dibutuhkan suatu dasar dan pedoman berupa ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan tidak bisa lepas dari filsafat ilmu, sehingga kedudukan filsafat ilmu dalam pengetahuan sangat penting, yaitu sebagai mother of science. Peran filsafat sangat penting artinya bagi perkembangan dan  penyempurnaan ilmu pengetahuan. Dari fenomena kehidupan sehari- hari didapat berbagai macam ilmu pengetahuan yang dikaji berdasarkan filsafat ilmu.

Kata Kunci:  Filsafat, manusia, kedudukan filsafat ilmu, berbagai macam ilmu pengetahuan






























BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam- dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita- citakan. Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Akan tetapi, sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan, seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Pertama, konsepsi yaitu pengetahuan sederhana dan kedua, pembenaran yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian. Artinya, proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran atau dari pengetahuan sederhana sampai kepada ilmu pengetahuan, pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya.
Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi, epistemologi dan aksiologi. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Sampai sejauh ini, didunia akademik anutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Oleh karena itu, proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai cara-cara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi, sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Jadi pada intinya filsafat ilmu berada pada kedudukan yang terpenting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dan seiring berjalannya waktu akan memunculkan berbagai ilmu- ilmu pengetahuan baru yang tentunyan didasarkan pada filsafat ilmu.

B.            Rumusan Masalah
1.             Bagaimana kedudukan filsafat ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan?
2.             Bagaimana keanekaragaman dan pengelompokan ilmu pengetahuan?

C.           Tujuan Pembahasan
1.             Menjelaskan bagaimana kedudukan filsafat ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
2.             Menjelaskan bagaimana keanekaragaman dan pengelompokan ilmu pengetahuan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita- citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita dapat menjumpai pandangan tentang apa saja. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi- segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan- rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu- ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan berdasarkan teori- teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

B.            Kedudukan Filsafat Ilmu dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Kedudukan filsafat ilmu sangat penting artinya bagi perkembangan dan  penyempurnaan ilmu pengetahuan, yaitu:
1.      Meletakkan kerangka dasar orientasi dan visi penyelidikan ilmiah, dan menyediakan landasan-landasan ontologisme, epistemologis, dan aksiologis ilmu pada umumnya.
2.      Filsafat ilmu melakukan kritik terhadap asumsi dan postulat ilmiah serta analisis-kritis tentang istilah-istilah teknis yang berlaku dalam dunia keilmuan.
3.      Filsafat ilmu juga menjadi pengkritik yang sangat konstruktif terhadap sistem kerja dan susunan ilmu.
Pada dasarnya filsafat  bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif. Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.
pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).










C.           Keanekaragaman dan Pengelompokan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan sangat beragam, ilmu pengetahuan dapat dikelompokan sebagai berikut:
Menurut subyeknya
1. Teoritis
a.    Nomotetis adalah ilmu yang menetapkan hukum-hukum yang universal berlaku, mempelajari obyeknya dalam keabstrakannya dan mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat kembali dalam segala pernyataannya yang konkrit bilamana dan di mana saja, misalnya adalah ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat dan sebagianya.
b.    Ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan), ilmu yang mempelajari obyeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik). Misalnya ilmu sejarah, etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiologi dan sebagainnya.
2. Praktis (applied science/ ilmu terapan): ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman pengetahuan itu, jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, maka ini pun diperinci lebih lanjut yaitu :
a.    Normatif, ilmu yang memesankan bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan  kewajiban-kewajiban dan larangan-laramgan misalnya: etika (filsafat kesusilaan/filsafat moral)
b.    Positif, (applied dalam arti sempit) yaitu ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, mencapai hasil tertentu. Misalnya adalah ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu kedokteran dan sebagainnya.

Kedua macam ilmu pengetahuan ini saling melengkapi, jadi walaupun dibedakan tetap tidak boleh dipisahkan. Kebanyakan ilmu pengetahuan mempunyai bagian teoritis disamping bagian praktis, sehingga sering sulit diterapkan dimana suatu ilmu harus dimasukkan dalam pembagian ini, ilmu teoritis, biasannya dapat berdiri sendiri terlepas dari ilmu praktis,akan tetapi ilmu praktis selalu mempunyai dasar yang teoritis.

Menurut Obyeknya (terutama obyek formalnya atau sudut pandangnya)
1.         Universal/umum: meliputi keseluruhan yang ada,seluruh hidup manusa, misalnnya: teologi/agama dan filsafat.
2.         Khusus: hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia, jadi obyeknya terbatasa, hanya ini saja atau itu saja.inilah yang biasannya disebut” ilmu pengetahuan”
a.         Ilmu-ilmu alam (natural scienses, natuurwetenschappen)
Ilmu yang mempelajari barang-barang menurut keadaanya di alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjasi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut obyeknya. Termasuk di dalamnya adalah: ilmu alam, ailmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat dan sebainnya.
b.      Ilmu pasti (mathematics)
Ilmu yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya hanya menurut besarnya. Jadi mengadakan abstaraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Termasuk di dalamnya adalah: ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu al jabar dan sebagainnya.
c.       Ilmu-ilmu kerohanian / kebudayaan (geisteswisssen-schaften/social-sciences)
Ilmu yang mempelahari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas dari manusia, melainkan justru sekadar mengalami pengaruh dari manusia. Termasuk misalnnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum , ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, ilmu bahasa dan sebagainnya.

Ketiga macam ilmu pengetahuan ini juga dibeda-bedakan tetapi jangan sampai dipisah-pisahkan, kerna memang berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi dan melengkapi.

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Menurut Para Filsuf
Dalam sub tema ini, kami mengambil beberapa contoh klasifikasi ilmu pengetahuan menurut para filsuf, antara lain :
1.      Cristian Wolff
Cristian Wolff mengklasifikasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok besar , yakni ilmu pengetahuan empiris, matematika, dan filsafat. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Cristian Wolff dapat diskemakan sebagai berikut :
a.    Ilmu pengetahuan empiris
·  Kosmologis empiris
·  Psikologis empiris
b.  Matematika
· Murni : aritmatika, geometri, aljabar
· Campuran : mekanika, dan lain-lain
c.  Filsafat
· Spekulatif (metafisika)
Umum:ontologi
Khusus: psikologi, kosmologi, theologi
·         Praktisintelek:
Logika
Kehendak;
Ekonomi,
Etika,
Politik
Pekerjaan fisik:
Tekhnologi
2.      Auguste Comte
Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan gejala pengetahuan yang semakin lama semakin rumit atau kompleks dan semakin kongkret. Karena dalam mengemukakan penggolongan ilmu pengetahuan, Auguste C            omte memulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana, yaitu gejala yang letaknya paling jauh dari suasana kehidupan sehari-hari. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut:
a.       Ilmu pasti (matematika)
b.       Ilmu perbintangan (astronomi)
c.        Ilmu alam (fisika)
d.      Ilmu kimia
e.       Ilmu hayat (fisiologi atau biologi)
f.        Fisika sosial (sosiologi)

3.      Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagi berikut:
a.       Ilmu pengetahuan
·         Logika (matematika murni)
·         Ilmu pengetahuan empiris (astronomi, fisika, biologi, sosiologi)
b.      Filsafat
·      Metafisika
·      Filsafat ilmu pengetahuan


























BAB III
KESIMPULAN
1.      Pada dasarnya filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Jadi kedudukan filsafat ilmu sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
2.      Dengan adanya filsafat ilmu sebagai dasar (mother of science) ditemukan berbagai jenis ilmu pengetahuan yang beragam yang berfungsi bagi kehidupan manusia









































DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Yusuf. 1989. Hakikat Filsafat dan Peranan Pendidikan jasmani dalam Masyarakat. Jakarta: Dirjen Dikti.
Saifullah, Ali. 1990. Filsafat dan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Salam, Burhanuddin. 2002. Pengantar Pedagogik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Alat-alat yang digunakan dalam ekologi



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM
ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM EKOLOGI
Pelaksanaan Praktikum : 17 September 2013




Disusun Oleh :
PURNOMO
081211433002


Dosen yang asistensi :
Dr. Sucipto Hariyanto, DEA


PRODI S1 BIOLOGI
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2013
BAB 1
PENGANTAR

1.1                   Latar Belakang
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya.
Dalam mempelajari ekologi, diperlukan pula pengamatan dan eksperimen atau percobaan. Dalam praktikum ekologi sangat diperlukan alat ukur dan alat sampling. Alat-alat ukur yang sering digunakan dalam ekologi adalah pengukur jarak/tinggi/diameter (penggaris, meteran, jangka sorong, dll), pengukur volume, pengukur massa jenis, pengukur berat (timbangan), pengukur suhu, pengukur kelembapan, pengukur pH, pengukur DO (Dissolved Oxygen), pengukur salinitas, pengukur ketinggian, pengukur kemiringan tempat, pengukur kecepatan angin, pengukur intensitas cahaya, pengukur kecepatan arus air, pengukur kecerahan air, pengukur posisi titik di bumi, pengukur kecepatan/percepatan. Sedangkan alat-alat sampling misalnya jaring, Ekman grab, water sampler, soil sampler, insect trap dan alat yang digunakan dalam ekologi, terutama untuk di lapangan yaitu kompas, GPS (Global Positioning System), kaca pembesar/teleskop.

1.2 Tinjauan Pustaka
Plankton net merupakan alat untuk sampling dengan objek plankton. Plankton net merupakan jaring dengan mesh size yang disesuaikan dengan plakton. Penggunaan jaring plakton selain praktis juga sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton net biasa terbuat dari nilon, umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran, tetapi rata-rata panjang jaring adalah 4-5 kali diameter mulutnya. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta plakton yang berada didalamnya.


Gambar 1. Plankton net

Ponar grab digunakan untuk mengambil substrat atau sendimen, bentos, dan sersah yang berada didasar perairan yang sedikit dalam. Prinsip kerja dari alat ini adalah dibenamkan dalam perairan hingga menyentuh dasar. Angkat kembali setelah terisi dengan substrat. Ada dua grab yang sering digunakan dalam kegiatan praktikum ekologi umum yaitu Ponar grab dan Eckman grab


Gambar 2. Ponar grab

Psychrometer adalah alat yang dirancang untuk menentukan kelembaban udara di atmosfer. Prinsip pengukuran dari alat ini merupakan salah satu teknnologi pengukuran kelembaban udara yang paling akurat saat ini. Nilai kelembaban dihitung dari perbedaan temperatur diantara kedua termometer. Termometer pertama mengukur suhu udara kering dan termometer kedua mengukur suhu udara basah (Anonim,2011).
    Psychrometer terdiri dari 2 termometer yaitu termometer bola basah dan termometer bola kering yang diletakkan dalam tabung anti radiasi matahari dan tabung aliran udara (intake tube). Tabung aliran udara dihubungkan dengan tabung saluran udara utama yang memiliki sebuah ventilasi diatasnya. Ventilasi berfungsi untuk membuang udara yang melalui tabung utama dan 2 tabung saluran udara. Udara mengalir pada kedua termometer dengan kecepatan minimum 2 m/s (Anonim,2011).


Gambar 3. Sling Psychrometer
Sumber : Shirley, 2013

Timbangan (neraca) adalah instrumen untuk mengukur massa benda, bukan berat benda (Anonim, 2012). Neraca terdiri atas beberapa macam. yang dipakai pada praktikum ini yaitu neraca Ohauss dua lengan dan tiga lengan sama. Cara pemakaian neraca ini yaitu dengan cara menggeser ketiga penunjuk ke sisi paling kiri (skalanya menjadi nol), kemudian letakkan benda yang akan diukur pada bagian kiri yang terdapat tempat untuk benda yang akan diukur, lalu geser ketiga penunjuk ke kanan hingga muncul keseimbangan, dan hasil pengukuran dapat diketahui. Massa benda dapat diketahui dari penjumlahan masing-masing posisi anak timbangan sepanjang lengan setelah neraca dalam keadaan setimbang (Nanda, 2012). Ada juga yang mengatakan prinsip kerja massa seperti prinsip kerja tuas (Anonim, 2011). Neraca Ohauss ada yang terdiri atas tiga batang skala. Batang pertama berskala ratusan gram, batang kedua berskala puluhan gram, dan batang ketiga berskala satuan gram. Neraca ini mempunyai ketelitian hingga 0,1 g (Anonim, 2012)

Gambar 4. Neraca Ohauss
Sumber : Anonim, 2012

1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam laporan praktikum pengenalan alat adalah :
1.      Apa alat yang akan digunakan dalam praktikum ekologi umum?
2.      Apa fungsi setiap alat yang akan digunakan dalam praktikum ekologi umum?
3.      Bagaimana cara kerja alat yang akan digunakan dalam ekologi umum?

1.4  Tujuan
1.      Mengetahui alat yang akan digunakan dalam praktikum ekologi umum.
2.      Mengetahui fungsi setiap alat yang akan digunakan dalam praktikum ekologi umum.
3.      Mengetahui cara kerja alat yang akan digunakan dalam praktikum ekologi umum.

1.5  Manfaat
Hasil dari praktikum ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dengan bertambahnya pengetahuan mengenai nama alat, fungsi alat, dan cara kerja alat yang akan digunakan pratikum ekologi umum selanjutnya.








BAB II
WAKTU, BAHAN DAN LANGKAH KERJA


2.1 Waktu dan Tempat Praktikum
        Praktikum pengenalan alat ini dilaksanakan di Ruang 226 Fakultas Sains dan Teknologi Kampus C Universitas Airlangga pada tanggal 17 September 2013, pada pukul 13.00-14.40 (jam ke 7-8).

2.2 Alat
        Alat yang digunakan pada praktikum pengenalan alat kali ini adalah anemometer, flowmeter, calipers, hagameter, kompas, GPS, timbangan, jangka sorong, mikroskop cahaya, bilik hitung, water sampler, plankton net, ponar grab, sling psychrometer, termometer maksimum minimum six bellani, termometer biasa, dan termometer basah kering.

2.3 Langkah Kerja     
               Praktikan memperhatikan dan menyimak dengan seksama peralatan yang tersedia. Selain itu praktikan wajib mengetahui langkah kerja dan cara penggunaan alat yang telah tersedia.


       



























BAB III
HASIL PENGAMATAN

Dalam praktikum ini, diperkenalkan alat-alat yang digunakan dalam ekologi antara lain :
No.
Nama Alat
Kegunaan Alat
Gambar Alat

1.

Termometer basah kering

Untuk mengukur suhu basah dan keringnya suatu ruangan


2.

Sling Psychrometer

Untuk mengukur kelembaban udara


3.

Kompas

Untuk mengetahui koordinat tempat


4.

GPS (Global Positioning System)

Untuk mengetahui posisi/ titik di bumi dari pengguna GPS


5.

Termometer

Untuk mengukur suhu suatu lingkungan


6.

Sedgewick Rafter

Untuk mengukur per volume dari organisme air



7.

Jangka Sorong

Untuk mengukur diameter (dalam maupun luar) suatu benda


8.

Calipers

Untuk mengukur diameter  suatu pohon



9.

Neraca


Untuk mengukur massa / berat dari suatu benda



10.

Water Sampler

Untuk mengambil sampel air dengan kapasitas besar pada perairan dangkal maupun dalam



11.

Ponar Dredge

Untuk mengambil sedimen dan bentos yang ada di dasar perairan


12.

Plankton Net

Untuk mengambil sampel populasi mikroorganisme  (plankton)  pada perairan



13.

Anemometer

Untuk mengukur kecepatan angin



14.

Flowmeter

Untuk mengukur kecepatan arus air



15.

Hagameter

Untuk mengukur ketinggian yang tidak terjangkau



16.

Termometer maksimum minimum

Menghitung suhu maksimum dan minimum dari suatu ruangan dalam jangka waktu 24 jam


17.

Mikroskop

Untuk mengamati benda-benda mikroskopik




BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan dari hasil praktikum, ada beberapa alat yang digunakan untuk mengukur dan ada juga yang digunakan untuk mengambil sampel. Hal itu dikarenakan pada setiap alat-alat tersebut memiliki cara penggunaan yang berbeda-beda.
a.       Termometer Basah Kering
Cara penggunaan termometer basah kering yaitu pada termometer kering, raksa yang ada di dalam termometer akan mengembang ketika ia menerima panas dari media yang diukur, sehingga ia menunjukkan angka tertentu pada skala termometer. Sedangkan pada termometer basah, penampung raksanya dibalut oleh kapas yang dicelupkan ke air, sehingga temperatur basah selalu lebih rendah dari temperatur kering. Untuk menentukan suhu dari termometer ini adalah dengan melihat angka suhu kering, lalu menghitung selisih dari suhu kering dan basah. Terakhir menyetarakan dalam skala vertikal dan horizontal yang terdapat pada termometer. Hasil pengukuran dinyatakan dalam derajat celcius.
b.      Sling Psychrometer
Cara penggunaan alat ini yaitu dengan membasahi pada bagian bola basah. Lalu memutarnya searah jarum jam selama 1-2 menit dengan kecepatan konstan. Selanjutnya, membaca skala termometer BB (Bola Basah) dan BK (Bola Kering). Angka hasil pembacaan dari termometer kering dihimpitkan dengan angka hasil pembacaan dari termometer basah. Lalu melihat diagram psikrometrik untuk mengetahui angka kelembaban dengan melihat tanda panah. Hasil dinyatakan dalam persen.
c.       Kompas
Cara penggunaan kompas yaitu membuka penutupnya lalu jika mencari arah mata angin maka melihat jarum pada kompas. Yang berwarna merah menunjukkan arah utara, sedangkan jarum berwarna hitam menunjukkan arah selatan.
d.      GPS (Global Positioning System)
Cara penggunaan alat yaitu menyalakan GPS dengan menekan tombol on kemudian menekan tombol page. Lalu kita menunggu sebentar karena GPS sedang terhubung dengan satelit. Jika sudah terhubung, akan muncul tanda panah yang menunjukkan kedudukan pemegang GPS pada bagian position di layar GPS.
e.       Termometer
Cara menggunakan alat ini adalah memasukkan termometer pada benda yang akan dihitung suhunya. Setelah itu menunggu beberapa saat sampai angka pada termometer konstan. Hasil pengukuran dinyatakan dalam derajat celcius.
f.       Sedgewick Rafter
Cara penggunaan alat ini adalah menggeser kaca penutup lalu meneteskan air sampel yang berisi mikroorganisme yang akan diteliti. Penetesan dilakukan pada kedua sudut yang terbuka, masing-masing diisi 1 tetes. Kemudian kaca penutup ditutup kembali dan diamati dengan menggunakan mikroskop. Jika kesulitan mengamati organisme hidup yang masih bergerak aktif, maka dapat digunakan larutan JKJ yang akan membunuh organisme hidup tersebut sehingga mudah dalam mengamati.
g.      Jangka sorong
Cara penggunaan jangka sorong yaitu :
1.      Mengukur Diameter Luar Benda
Cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda adalah memutar pengunci ke kiri, membuka rahang, memasukkan benda ke rahang bawah jangka sorong, menggeser rahang agar rahang tepat pada benda, memutar pengunci ke kanan. Rahang jagka sorong yang digunakan adalah yang berukuran besar.
2.      Mengukur Diameter Dalam Benda
Cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung adalah memutar pengunci ke kiri, memasukkan rahang atas ke dalam benda, menggeser agar rahang tepat pada benda, memutar pengunci ke kanan. Rahang jangka sorong yang digunakan adalah yang berukuran kecil.
3.      Mengukur Kedalaman Benda
Cara mengukur kedalaman benda adalah memutar pengunci ke kiri, membuka rahang sorong hingga ujung lancip menyentuh dasar tabung, memutar pengunci ke kanan.
h.      Calipers
Cara penggunaan calipers yaitu dengan cara membuka kedua bagian calipers lalu menempelkan ujung-ujung calipers pada pohon. Selanjutnya, melihat angka pada lubang pangkal calipers. Alat ini memiliki satuan cm.
i.        Neraca
 Cara penggunaan neraca yaitu dengan menyeimbangkan timbangan terlebih dahulu hingga batas pada atas neraca setara dengan angka nol. Jika sudah seimbang, maka meletakkan benda yang ingin diukur massanya pada salah satu sisi timbangan. Lalu menggeser-geser anak timbangan pada lengan neraca mulai dari anak timbangan terbesar hingga timbangan setimbang (setara dengan angka 0). Jika sudah setimbang, maka kita harus menjumlahkan semua angka yang tertera pada masing-masing anak timbangan.
j.        Water Sampler
Cara penggunaan water sampler yaitu dengan membuka penutup kanan dan kirinya lalu mengkaitkan tali penutup pada kait yang berada di tengah tabung. Lalu menjatuhkan water sampler hingga batas kedalaman yang diinginkan sambil memegang talinya. Lalu menarik tali dan mengakibatkan penutup kanan dan kirinya tertutup dan air dapat masuk ke dalam water sampler.
k.      Ponar Dredge
Cara penggunaan alat ini  yaitu menjatuhkan Ponar Dredge yang sudah dikunci dengan kunci yang menggunakan pegas hingga ke dasar perairan. Lalu secara otomatis jika Ponar Dredge menyentuh dasar perairan maka sampel yang akan diambil akan masuk ke dalam Ponar Dredge  dan kita menarik alat ke atas permukaan.
l.        Plankton net
Cara penggunaaan plankton net adalah melemparkannya ke perairan sambil memegangi talinya. Setelah mengangkat jaring ke permukaan, kita harus menunggu hingga air yang menggenang di jaring habis dan hanya tersisa substrat yang terkumpul dalam wadah corong dibagian bawah plankton net.
m.    Anemometer
Cara penggunaan anemometer yaitu dengan menaruh atau memegangnya tegak lurus ke atas pada keadaan angin yang ingin diukur selama 2 menit. Lalu melihat skala yang tertera pada anemometer. Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan m/s.
n.        Flowmeter
Cara penggunaan alat ini adalah menyusun alat sedemikian rupa dengan menyambung pipa-pipa yang panjangnya disesuaikan dengan kedalaman arus perairan. Lalu mencelupkan alat ke dalam air dan mengukur arusnya dengan mengambil angka terbesar yang didapat dari flowmeter. Hasil yang diperoleh memiliki satuan m/s.
o.        Hagameter
Cara penggunaan alat ini adalah dengan mengukur terlebih dahulu jarak antara kita (pengamat) dengan objek. Lalu mengatur jarak pada alat (misal: 20 kaki. Disesuaikan dengan hasil pengukuran antara pengamat dengan objek). Kemudian memfokuskan pandangan dan membidik objek dengan melihat melalui lubang yang ada pada ujung Hagameter. Jika sudah tepat pada objek yang akan diukur, tekan tombol pembidik dan kita akan melihat hasil yang didapat. Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan kaki.
p.        Termometer maksimum minimum
Cara menggunakan alat ini adalah  menarik pita biru dengan menggunakan magnet sampai mendekati air raksa, yang bertujuan agar tidak ada udara yang masuk dalam termometer. Lalu mendiamkan termometer dalam ruangan selama 24 jam. Setelah itu melihat hasilnya pada angka yang ditunjukkan oleh termometer.
q.        Mikroskop
Cara menggunakan alat ini adalah dengan mengatur cahaya yang dibutuhkan, lalu mengatur perbesaran yang diinginkan. Setelah itu, mengatur gerak meja objek dengan pemutar kasar dan pemutar halus hingga diperoleh fokus preparat pada penampang mikroskop.




























  
BAB V
KESIMPULAN

  • Alat-alat yang sering digunakan dalam praktikum ekologi umum adalah :


1.         Termometer basah kering
2.         Sling Psychrometer
3.         Kompas
4.         GPS (Global Positioning System)
5.         Termometer
6.         Sedgewick Rafter
7.         Jangka Sorong
8.         Calipers
9.         Neraca
10.    Water Sampler
11.    Ponar grab
12.    Plankton Net
13.    Anemometer
14.    Flowmeter
15.    Hagameter
16.    Termometer maksimum minimum
17.    Mikroskop


·         Setiap alat yang ada di dalam laboratorium memiliki fungsi yang berbeda.
·         Setiap alat memiliki karakteristik penggunaan yang berbeda.




























DAFTAR PUSTAKA

Hariyanto Sucipto, dkk. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya : Airlangga University Press
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta : UI Press
Soemarwoto, Otto. 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.
Soegianto, Agoes. 2010. Ilmu Lingkungan Hidup, Sarana Menuju Masyarakat Yang Berkelanjutan. Surabaya: Airlangga University Press.